Jerman - negara yang berekonomi kuat di Eropa, saat ini mulai beralih ke penggunaan energi kincir angin. Lima tahun setelah bencana kebocoran Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
(PLTN) Fukushina, Jepang. Jerman mengambil sikap tegas untuk mulai
menghentikan penggunaan tenaga nuklir dan beralih ke energi terbarukan.
Belum lama ini di Berlin, ibu kota Jerman, ada diskusi tentang
penghentian penggunaan energi nuklir. Hadir antara lain mantan menteri
lingkungan dari Partai Kristen Demokrat (CDU), seorang wakil dunia
ekonomi dan seorang aktivis lingkungan. Mereka merundingkan penggunaan pembangkit energi kincir angin, meski kadang juga membicarakan energi nuklir.
Jerman mulai memikirkan masa depannya yang
go green. Menurut
Deutche Welle, hanya tinggal delapan instalasi PLTN berfungsi di Jerman dari hampir 20 lokasi. Dalam enam tahun ke depan, delapan lainnya akan berhenti beroperasi.
Tidak ada kontroversi lagi di parlemen, tidak ada lagi debat besar di
masyarakat.
Secara mengejutkan Kanselir Angela Merkel mengumumkan penghentian
penggunaan energi nuklir setelah peristiwa Fukushima. Padahal baru
beberapa waktu sebelumnya ia memutuskan untuk memperpanjang masa
penggunaan reaktor. Partainya sendiri, CDU tidak diminta pendapatnya. Politisi CDU masih banyak yang marah dengan Merkel karena hal itu.
Setelah bencana Fukushima, penggunaan energi alternatif sangat digiatkan. Saat ini, sepertiga kapasitas listrik di Jerman berasal dari sumber energi terbarukan. Saluran listrik baru dibangun di seluruh negeri, listrik yang
dihasilkan dari taman pembangkit energi angin di pantai utara dialirkan
ke Jerman selatan yang kaya industri.
Subsidi tarif listrik tenaga angin dan matahari meningkatkan harga
listrik, dan rakyat marah. Namun, kurang besar untuk bisa menghentikan
proyek. Orang yang pesimis mengungkap kemungkinan kurangnya pasokan listrik.
Faktanya, tidak ada negara lain yang lebih terjamin pasokan listriknya
dibanding Jerman.
Di luar Jerman, pandangan terhadap hal ini pun berbeda. Di banyak negara, Fukushima dianggap bencana alam. Jepang sendiri kembali memakai energi nuklir tak lama setelah bencana itu. Perancis dan AS tidak pernah memperhitungkan sama sekali untuk berhenti menggunakan energi nuklir. Di antara negara-negara yang mempunyai tenaga nuklir, hanya Jerman yang mengambil konsekuensi sebesar itu.
Mengubah sumber energi dengan mentalita warganya, itulah kekhasan Jerman. Namun, mentalitas warga Jerman yang mengerjakan segala sesuatu secara 100 persen atau secara total ikut berperan dalam hal ini. Kalau mau dikerjakan, harus sungguh-sungguh.
Jerman sebenarnya kurang disinari matahari. Namun, berani
menginvestasikan dana besar pada instalasi listrik tenaga matahari.
"Kalian serius?" tanya seorang profesor pakar energi dari Texas, AS
tahun lalu, kepada pejabat Jerman.
Kekaguman juga mencuat atas mentalitas Jerman. Klaus Töpfer, pakar politik lingkungan hidup Jerman di PBB bercerita, di luar negeri, orang biasanya mengatakan, "Orang Jerman gila. Namun, kalau ada yang akhirnya berhasil, pasti itu orang Jerman."
Pemenang Nobel Sastra dari Jepang
Kenzaburo Oe mengingatkan Indonesia agar tidak menggunakan energi
nuklir. Ia mengatakan, masyarakat harus sadar tentang bahaya nuklir.